Beberapa saat yang lalu, saya sedang antri didokter gigi. Disana saya antri dengan beberapa orang, salah satunya anak laki-laki berusia 6-7 tahun. Anak tersebut lincah berlari sana sini, mengelilingi ruang tunggu pasien dan terkadang melihat siaran televisi yang terdapat diruang tunggu.
Namun kebahagiaan tersebut sirna ketika salah seorang ibu muncul dan menarik kerah baju anak tersebut dari belakang . Dan menempatkannya disebuah kursi yang terdapat meja tempat yang biasanya terdapat majalah untuk pasien ketika menunggu.
Diantara majalah-majalah ternyata terdapat buku latihan untuk anak-anak, ibu tersebut memarahinya dan menyuruh anak itu mengerjakan latihan – latihan yang ada didalam buku dan melarangnya untuk berlari- lari dan menonton siaran televisi. Anak tersebut patuh, namun sesaat ketika ibu itu pergi dia mulai diam-diam menglilingi ruangan kembali dan melihat-lihat siaran televisi.
Sesaat sebelum ibu tersebut kembali anak itu telah duduk kembali di mejanya dan berpura-pura mengerjakan soal – soal latihannya. Kemudian datang seorang ibu lagi, mengobrol dengan ibu tersebut.
Kemudian sang ibu menitipkan anaknya pada sang suster yang bertugas di recepsionis untuk mengawasi anaknya. Dan kedua ibu tersebut pergi.
Sang suster menemani anak tersebut belajar namun anak tersebut tidak mau belajar dan cenderung ingin bermain. Saat itu aku pun mencoba menemaninya bermain sambil belajar. ketika saya tanya “kelas berapa?”, anak tersebut menjawab dengan malu-malu “kelas 2″. Kemudian saya bertanya kembali “lagi belajar apa?” Sambil melirik buku latihan yang dimilikinya, anak tersebut diam tidak mau menjawab.
Pada buku latihannya, saya melihat nama sekolah yang tercantum pada buku tersebut “internasional singapore school” . Pada buku tersebut pelajaran matematikanya sudah mempelari perkalian dan pembagian dengan 2-3 digit angka. Dan pelajaran bahasa inggrisnya sudah mempelajari pola tenses.
Anak tersebut tidak terlalu bermasalah dalam penghafalan kosa kata bahasa inggris namun dia masih cukup kesulitan untuk pertambahan dengan angka lebih dari 10 digit. untuk melakukan pertambahan dia masih mengunakan jarinya dan mulai kebingungan karena jumlah jarinya tidak lebih dari 10.
Saya jadi berpikir “apakah tidak terlalu sulit untuk anak seusia dia? Bagaimana cara dia menghitung perkalian dan pembagian kalau pertambahan saja dia belum mampu?” Sayangnya anak tersebut takut belajar bersama, dia selalu mengintip ke arah pintu untuk mengetahui apakah ibunya telah kembali atau tidak.
Ketika bertanya “yang mana ibunya?” anak tersebut tidak bisa memberi jawaban yang jelas, karena tidak konsentrasi pada pertanyaan yang saya lemparkan, dia lebih berkosentrasi ‘apakah sang ibu akan kembali atau tidak’. Saya hanya mengetahui salah satu ibunya dan satunya lagi adalah tante/bibi nya. Suster pun tidak mengetahui yang mana ibu anak tersebut.
Yang perlu dipertanyakan “apakah ibunya yang memperlakukan anaknya seperti hewan?” dengan menarik kerah baju anak itu dari belakang, dan menyeretnya ke kursi. Ataukah tante/bibi nya yang melakukannya? Kalaupun bibi/tante nya yang melakukannya “apakah ibunya tau akan hal itu?”
Perlakuan tersebut tidak pantas dilakukan pada anak-anak, hal tersebut dapat membawa dampak buruk di masa depannya kelak. Pendidikan bagi anak pun harus di sesuaikan dengan kemampuan anak, janganlah membuat anak menjadi korban ambisi orang tua yang ingin mengulang mimpi yang tidak pernah dicapainya.